Festival Wale Mazani Budayakan Semangat Kebangsaan dari Kota Tomohon

0
39
TOMOHON-Festival Wale Mazani sukses digelar di Kota Tomohon. Tepatnya di Rumah Budaya Nusantara (RBN) Wale Mazani Minahasa, Kecamatan Tomohon Selatan.
Founder RBN Wale Mazani Minahasa Joudy Aray mengatakan, festival ini dihelat sejak 21 Oktober hingga 16 November. Berbagai kegiatan di antaranya, launching virtual, penanaman pohon, workshop dan dialog budaya, lomba bintang vokalia mulai usia anak hingga dewasa, lomba kolintang juga konser budaya.
Aray menyebut, festival ini untuk menumbuhkembangkan semangat kebangsaan melalui pagelaran budaya. Tentunya salah satu tujuan utama yakni melestarikan alat musik kolintang sebagai warisan budaya dan sarana edukasi.
“Bahkan lewat festival ini kita bisa menemukan kolaborasi unik dari musik kolintang saat dipadukan dengan genre musik modern sehingga semakin berkembang,” sebut Aray.
Salah satu maestro seni musik tradisional ini juga menuturkan, lewat FesWaMa ini juga diharapkan menjadi salah satu sarana mengumpulkan seniman-seniman budaya lokal dan sanggar musik kolintang.
Tidak hanya itu, festival ini juga memperkuat komunitas-komunitas seni budaya lokal yang memiliki persepsi yang sama untuk kemajuan kebudayaan.
“Pastinya diharapkan lewat gelaran ini nilai-nilai budaya terus ditanamkan terlebih bagi para generasi baru,” harapnya.
IMG-20201117-WA0072
Festival ini pun terlaksana apik berkat kolaborasi antara Balai Pelestarian Nilai Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tomohon, juga RBN Wale Mazani Minahasa.
Khusus 11-14 November, diadakan lomba yang menghadirkan para juri lokal maupun luar daerah.
Dialog budaya bertema ‘Bersatu Dalam Strategi Kolintang Goes to UNESCO’ juga mewarnai FesWaMa ini. Menghadirkan perwakilan PINKAN Indonesia, KKK Surabaya, KKK Medan, K2 Surabaya, Ipkolindo Nasional dan Sulut, IPMK Jakarta, Asik Sulut, AMKK Milenial, Isento dan Pineasaan ne Tombulu.
Puncaknya, FesWaMa diakhiri dengan Konser Dentang Kolintang Membahana Dunia. Melibatkan sekira 300 talent dengan aneka jenis kesenian daerah Sulut.
Festival yang ditutup oleh Kepala BPNB Sulut Apolos Marisan SSos bersama Kadis Kebudayaan Sulut diwakili Kabid Kesenian Patrisia Mawicere, Kadis Dikbud Tomohon, turut menganugerahkan Ma’zani Award.
Diberikan kepada Drs Joppy Sajow (Manado), Drs Sondak Tampi (Minahasa), Drs Ruddy Pogalin (Tomohon), Hein Sorongan (Surabaya), Andre Sumual (Jakarta), Royke Rawung (Medan), Nicodemus Songkiling (Minut), Ronny Lengkong (Minahasa), serta Marten Taroreh dan Maria Mambu dari Tomohon.
IMG-20201117-WA0073
Apresiasi terhadap FesWaMa turut disampaikan seorang Psikolog Tomohon yang ikut menyaksikan pagelaran seni budaya tersebut.
“Festival budaya Wale Ma’zani dengan kegiatan Meimo Kumolintang memberi dampak positif bagi anak-anak, karena alunan musik bisa berpengaruh baik pada perkembangan otak,” kata Jeniver Mantow.
Menurutnya, paparan musik ini bisa menstimulasi area otak berkaitan dengan pembelajaran bahasa dan emosi.
Selain itu, dengan mengenalkan anak pada alat musik kolintang bisa menambah wawasan mereka terhadap kearifan lokal Minahasa khususnya seni.
Di Wale Ma’zani, anak-anak bisa melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan alat musik kolintang dan bagaimana wujudnya.
Selain itu, kearifan lokal yang bisa menjadi pelajaran bagi anak-anak yaitu bahasa daerah. Tidak bisa dipungkiri hanya di beberapa kelurahan saja di Tomohon yang masih fasih berbahasa Tombulu.
Bukan cuma anak-anak, orang tua juga tidak semua lancar berbahasa daerah. “Ada yang bisa Tombulu pasif yang sering dikatakan bisa paham kalau orang lain bicara, tapi dia sendiri kurang bisa bicara merangkai kata dalam bahasa Tombulu,” tutup Mantow.
(vhp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here