Tahun Ini, 80 Unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya Rooftop Dibangun di Sulawesi Utara

0
160
Senator SBANL (kanan) bersama Menteri ESDM RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta.
JAKARTA-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI mengalokasikan pembangunan 80 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Rooftop di Sulawesi Utara pada tahun anggaran 2020 ini.
Anggota DPD RI Ir Stefanus BAN Liow MAP mengatakan, kabar gembira itu disampaikan langsung Menteri ESDM RI Ir Arifin Tarif dalam Rapat Kerja bersama Komite II DPD RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (3/2/2020).
Dalam penjelasan Kementerian ESDM, PLTS merupakan pemanfaatan energi terbarukan. PLTS menggunakan modul surya fotovoltaik yang dipasang di atap bangunan (rooftop).
PLTS rooftop merupakan solusi yang handal bagi penyediaan energi di gedung-gedung perkantoran karena mayoritas gedung perkantoran menggunakan listrik pada siang hari atau jam kerja.
Pasalnya, biaya pengadaan listrik yang lebih murah dari diesel ataupun bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, perawatan dan pengoperasiannya juga mudah namun dampaknya signifikan untuk mengurangi polusi dan efek rumah kaca.
Di samping itu, bentuk PLTS rooftop tersebut memiliki keunggulan tersendiri apabila dibandingkan dengan PLTS skala besar. Di antaranya, lebih mudah dan murah untuk diintegrasikan dengan sistem kelistrikan yang sudah ada, dapat memanfaatkan lahan yang ada (mengurangi biaya investasi lahan), serta dapat mengurangi beban jaringan sistem.
Saat ini PLN telah mengakomodasi pemanfaatan PLTS oleh pelanggan secara terintegrasi jaringan melalui sistem net-metering. Di mana produksi listrik oleh pelanggan akan mengimbangi energi listrik dari sistem PLN, maka sistem PLTS yang akan dibangun adalah PLTS rooftop on grid dilengkapi baterei sebagai kompensasi atas fluktuasi radiasi surya yang mungkin terjadi.
Untuk menentukan berapa kapasitas PLTS yang diperlukan, harus diperhatikan berapa produksi energi yang diinginkan.
Sebagai contoh, misal jika PLTS rooftop ini diimplementasikan di gedung Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) dengan profil beban konsumsi energi harian adalah sebesar 3,2 megawatt hour (MWh), apabila digunakan asumsi 7 persen dari energi listrik yang diperlukan dan load factor 0,6 maka diperoleh kapasitas sistem sebesar 133 kWp.
Dengan luasan per kWp 7 m2, maka luasan yang diperlukan untuk sistem 132,96 kWp adalah sekitar 931 m2. Dengan harga PLTS Rp 28 juta per kWp (rata-rata rooftop residential), maka diperlukan biaya sekira Rp 3,76 miliar.
Dengan asumsi pengurangan emisi CO2 sebesar 0,891 kg/kWh maka dalam satu tahun akan diperoleh penurunan emisi 172 ton CO2.
(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here