Teori Caring Swanson Bantu Perawat Tangani Pasien dan Keluarga di IGD

0
85

Oleh: Jerry Hence Pandelaki SKep Ns

Pembimbing: Erna Rochmawati SKp, MNS, M.Med.Ed.PhD

INSTALASI Gawat Darurat merupakan salah satu unit tersibuk di rumah sakit. Ketika pasien dan keluarga datang ke gawat darurat untuk mencari perawatan medis, mereka datang dengan banyak emosi dan pikiran campur aduk.
Jika tidak dilakukan konsep keperawatan yang baik di fase cepatnya pergantian pasien dan suasana kacau, justru dapat meninggalkan kesan bahwa staf tidak peduli terhadap pasien.
Teori paling praktis dan membantu perawat untuk mempraktikkan kepedulian adalah teori caring (kepedulian) oleh Kristin Swanson (1991). Ini membantu staf meningkatkan interaksi pasien dan pengasuh, serta memperkuat hubungan rekan kerja.
Tokoh keperawatan ini, mendefinisikan Caring sebagai cara memberikan asuhan keperawatan yang bernilai kepada klien dengan penuh rasa komitmen dan tanggung jawab.
Swanson mampu memahami ruang lingkup caring secara keseluruhan dan pada saat yang sama menguraikan dimensi spesifik dari apa yang diperlukan seorang perawat untuk merawat pasien.
Salah satu hal paling penting yang memberikan kontribusi pada teori keperawatan dalam hal ini, yaitu argumen bahwa pasien seharusnya tidak hanya dilihat sebagai individu yang terpisah, melainkan sebagai manusia seutuhnya.
Hal yang menarik tentang pengertian pasien ini adalah bahwa Swanson selalu menempatkan peran perawat dalam proses becoming tersebut. Jadi dalam aspek kesehatan becoming tersebut, perawat tidak hanya menjadi dispenser pengobatan medis, tetapi juga merupakan mitra dalam membantu pasien lebih dekat dengan tujuannya (well-being).
Teori Caring Swanson menyajikan permulaan yang baik untuk memahami kebiasaan dan proses karakteristik pelayanan. Teori Caring Swanson menjelaskan tentang proses caring yang terdiri dari bagaimana perawat mengerti kejadian yang berarti di dalam hidup seseorang, hadir secara emosional, melakukan suatu hal kepada orang lain sama seperti melakukan terhadap diri sendiri, memberi informasi dan memudahkan jalan seseorang dalam menjalani transisi kehidupan, serta menaruh kepercayaan seseorang dalam menjalani hidupnya.
Asumsi dasar dari teori ini ditemukan dalam gagasan caring yang dijelaskan Swanson. Menurut Swanson, caring adalah proses multifaset yang terus ada dalam dinamika hubungan pasien-perawat.
Ada yang melihat proses ini sebagai hubungan yang linear, namun juga harus dianggap sebagai hubungan siklik, dan proses yang terjadi harus selalu diperbarui karena peran perawat untuk membantu klien mencapai kesehatan dan kesejahteraan.
Secara umum, proses yang terjadi sebagai berikut, pertama perawat membantu klien mempertahankan keyakinannya, yang berarti bahwa perawat mendorong pasien dan membantu untuk memperkuat harapan mereka mengatasi kesulitan saat ini.
Hal ini sangat penting terutama dalam kasus di mana pasien menghadapi penyakit yang mengancam nyawa seperti kanker, atau peristiwa yang sangat traumatis.
Sebagai pelengkap dan langkah berikutnya dalam proses untuk mempertahankan keyakinan, adalah “knowing”. Dalam proses “knowing”, perawat berusaha memahami apa arti situasi yang terjadi saat ini bagi pasien. Itu menciptakan seseorang dengan rasa tertentu bagaimana kondisi fisik dan psikologis dapat mempengaruhi seseorang secara keseluruhan.
Ada lima dimensi Caring oleh Kristen Swanson. Pertama, maintaining belief yaitu menumbuhkan keyakinan seseorang dalam melalui setiap peristiwa hidup dan masa-masa transisi dalam hidupnya. Serta menghadapi masa depan penuh keyakinan, meyakini kemampuan orang lain, menumbuhkan sikap optimis, membantu menemukan arti atau mengambil hikmah dari setiap peristiwa, dan selalu ada untuk orang lain dalam situasi apa pun.
Kedua, Knowing. Mempertahankan kepercayaan adalah dasar dari Caring keperawatan, sementara knowing merupakan pemahaman pengalaman hidup klien dengan mengesampingkan asumsi perawat mengetahui kebutuhan klien, menggali/menyelami informasi klien secara detail, sensitif terhadap petunjuk verbal dan non verbal, fokus kepada satu tujuan keperawatan, serta melibatkan orang yang memberi asuhan dan orang yang diberi asuhan dan menyamakan persepsi antara perawat dan klien.
Ketiga, Being With. Maksudnya tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga komunikasi, berbagi perasaan tanpa beban dan secara emosional bersama-sama klien dengan maksud menawarkan kepada klien dukungan, kenyamanan, pemantauan dan mengurangi intensitas perasaan yang tidak diinginkan.
Keempat, Doing For. Berarti sama-sama membuat suatu tindakan yang bisa dilakukan, mengantisipasi kebutuhan yang diperlukan, kenyamanan, menjaga privasi dan martabat klien.
Kelima, Enabling. Yaitu memampukan atau memberdayakan klien, memfasilitasi klien untuk melewati masa transisi dan melewati setiap peristiwa yang belum pernah dialami dengan memberi informasi, menjelaskan, mendukung dengan fokus masalah yang relevan. Kemudian berpikir melalui masalah dan menghasilkan alternatif pemecahan masalah sehingga meningkatkan penyembuhan klien.
(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here