Model Sistem Perilaku Berkontribusi Positif Dalam Keperawatan

0
96
Oleh: Ns Aloysius Gabriel Turambi SKep
Pembimbing: Ns Fitri Arofiati MKep PhD
MODEL Sistem Perilaku yang dikembangkan oleh Dorothy E Johnson atau dikenal Jhonson’s Behavioral System Model (JBSM) didasarkan teori Florence Nightingale.
Melalui model ini, meyakinkan bahwa keperawatan adalah suatu profesi yang bisa memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan masyarakat. Karena itu, keperawatan mempunyai tujuan jelas dalam konteks pemberian asuhan bagi seorang klien.
Di situ menyatakan jelas bahwa hal paling penting dalam keperawatan adalah hubungan antara individu yang sedang sakit dan lingkungannya, bukan hanya berfokus dengan penyakitnya itu sendiri.
Jhonson juga menyatakan tentang kontribusi khusus dari keperawatan terhadap kesejahteraan seorang pasien yang dapat memunculkan sistem behavioral yang efisien dan efektif dan berfungsi dalam diri pasien. Hal tersebut dapat membantunya untuk mencegah penyakit, pada saat kondisi sakit dan setelah penyakitnya sembuh.
Jhonson menggunakan berbagai teori perilaku yang berasal dari disiplin ilmu psikologi, sosiologi, dan etnologi untuk mengembangkan teorinya. Jhonson juga menyertakan teori sistem dan konsep.
Salah satu kekuatan dari teori JBSM ini adalah integrasi konsep yang konsisten untuk menjelaskan sistem perilaku yang diambil dari teori sistem umum. Beberapa konsep yang termasuk di dalamnya yaitu holism, pencarian tujuan (goal seeking), hubungan atau saling ketergantungan (interrelationship/interdependency), stabilitas, instabilitas, subsistem, regularitas, struktur, fungsi, energi, umpan balik (feedback), dan adaptasi.
Jhonson menyatakan, manusia adalah suatu sistem perilaku. Manusia akan menunjukkan respons spesifik yang membentuk suatu kesatuan utuh dan integritas.
Karena itu, Jhonson berpendapat bahwa melalui Model Sistem Perilaku dalam dunia keperawatan berkontribusi dengan memfasilitasi fungsi perilaku efektif yang ada dalam diri pasien pada saat, selama, dan sesudah sakit.
Jhonson mendefinisikan perilaku seperti yang disepakati oleh para ahli biologi dan perilaku. Yaitu suatu keluaran dari struktur intraorganisma dan proses yang terkoordinasi di dalamnya serta dimunculkan dan direspons untuk mengubah stimulasi sensori.
Sistem perilaku adalah mencakup cara-cara berperilaku yang terpola, berulang dan mempunyai tujuan.
Cara berperilaku ini membentuk suatu fungsi unit yang tertata dan terintegrasi yang membedakan dan membatasi interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Juga membentuk suatu
relasi antara seseorang dengan benda, peristiwa, dan situasi yang ada pada lingkungan tempat dia berada.
Biasanya, suatu perilaku dapat dideskripsikan dan dijelaskan. Manusia sebagai suatu sistem perilaku berusaha untuk mencapai stabilitas dan keseimbangan dengan melakukan perubahan dan adaptasi.
Kondisi ini akan berhasil jika menggunakan fungsi efektif dan efisien yang ada dalam dirinya.
Sistem perilaku mempunyai beberapa aktivitas yang dilakukan. Bagian dari sistem akan membentuk suatu subsistem yang mempunyai aktivitas lebih spesifik.
Subsistem Keterikatan-Afiliasi
Subsistem keterikatan-afiliasi merupakan suatu kondisi paling kritis karena hal tersebut membentuk suatu dasar bagi organisasi sosial. Pada
kondisi umum, hal ini bisa menjadi bagian pertahanan dan keamanan.
Sistem Ketergantungan (Dependency)
Dalam konteks luas, subsistem ketergantungan ini meningkatkan perilaku pemberian pertolongan (helping behavior), yang memunculkan adanya suatu respons terhadap kebutuhan pemberian asuhan keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien tersebut. Dalam perjalannya, perilaku ketergantungan seseorang bermula dari kondisi ketergantungan kepada orang lain secara total menjadi kondisi yang menjadikan pasien tersebut menjadi lebih mandiri.
Subsistem Ingestif (Ingestive)
Subsistem ingestif and eliminatif (eliminative) tidak seharusnya dipandang sebagai mekanisme input dan input dari sistem. Subsistem ingestif adalah segala sesuatu yang harus dikerjakan kapan, bagaimana, apa, berapa banyak makanan yang kita makan. Hal ini menunjukkan fungsi yang luas dari kepuasan apetitif. Perilaku ini berhubungan dengan pertimbangan sosial, psikologis, dan biologis.
Subsistem Eliminatif
Subsistem eliminatif membahas tentang kapan, bagaimana, dan kondisi tertentu yang memerlukan tindakan eliminasi.
Dalam hal ini, faktor sosial dan psikologis yang memengaruhi aspek biologis dari subsistem ini dan memungkinkan pada suatu waktu tertentu bisa mengalami konflik dengan subsistem eliminasi.
Subsistem Seksual
Subsistem seksual mempunyai fungsi ganda. Yaitu berkaitan dengan reproduksi (prokreasi) dan hal yang menciptakan kesenangan (gratifikasi). Di dalamnya bukan hanya mencakup aktivitas seksual dengan pasangan saja. Sistem respons ini mulai dengan perkembangan peran dari identitas gender dan perilaku peran seksual.
Subsistem Pencapaian (Achievement)
Subsistem pencapaian ini dimaksudkan untuk memanipulasi lingkungan. Hal ini berfungsi sebagai pengendalian atau penguasaan terhadap suatu aspek dari diri atau lingkungan untuk mencapai
suatu prestasi atau keberhasilan yang diharapkan.
Subsistem Agresif-Proteksi
Fungsi dari subsistem agresif-proteksi adalah perlindungan dan pemeliharaan. Bahwa perilaku agresif tidak hanya dipelajari, tetapi mempunyai intensitas primer untuk menyakiti orang lain. Masyarakat membutuhkan perlindungan
diri sendiri (self-protection) serta segala sesuatu kepemilikannya perlu dihargai dan dilindungi.
Keseimbangan (Equilibirium)
Johnson menyatakan bahwa keseimbangan adalah konsep inti yang terdapat dalam tujuan keperawatan yang spesifik. Konsep ini didefinisikan sebagai sesuatu yang menstabilkan tetapi bersifat transisi. Keadaan selebihnya apakah individu berada dalam harmoni dengan dirinya sendiri atau dengan lingkungannya. Hal ini menunjukkan kekuatan biologis dan psikologis yang seimbang antara satu dengan lainnya serta dengan kekuatan sosial yang memengaruhinya.
Persyaratan Fungsional
Untuk subsistem yang mengembangkan dan mempertahankan stabilitas, masing-masing subsistem ini harus mempunyai fungsi-fungsi yang menetap. Lingkungan menetapkan faktor yang memengaruhinya munculnya suatu perilaku. Misalnya perlindungan, perawatan, dan stimulasi. Johnson mencatat bahwa sistem biologis dan sistem hidup lainnya mempunyai persyaratan yang sama.
Pengaturan/Kontrol
Subsistem perilaku yang berhubungan harus diatur sedemikian rupa sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai. Peraturan berimplikasi bahwa penyimpangan bisa dideteksi dan diperbaiki. Umpan balik adalah suatu persyaratan penting untuk memperoleh kendali yang efektif. Klien juga mempunyai kemampuan untuk melakukan pengaturan diri (self-regulation). Perawat juga bisa bertindak sebagai suatu kekuatan yang mengatur yang berasal dari luar dan bersifat sementara, untuk memelihara organisasi dan integrasi dari perilaku klien pada satu tingkatan yang optimal dari kondisi sakit. Atau pada kondisi di mana perilaku tertentu menunjukkan adanya ancaman kesehatan.
Tekanan
Konsep dari tekanan didefinisikan sebagai suatu keadaan yang bisa bersifat tarik-ulur dan merupakan suatu produk akhir dari keseimbangan yang terganggu. Tekanan (tension) itu bisa bersifat konstruktif ketika menghadapi perubahan atau bersifat destruktif akibat inefisiensi penggunaan energi, menutupi adaptasi, dan mengakibatkan potensi kerusakan struktural.
Stresor
Stimulus internal atau eksternal yang menghasilkan tension dan menghasilkan tingkatan yang ketidakstabilan (instability) yang disebut sebagai stresor. Stimulus bisa positif dalam konteks apa yang ditunjukkan, atau negatif ketika sesuatu yang diinginkan atau diminta tidak ada. Stimulus bisa berasal dari dalam atau luar. Sistem terbuka dan saling terkait mengalami perubahan yang konstan. Sistem ini antara lain kondisi psikologis, kepribadian, dan kelompok kecil yang sangat bermakna (keluarga) dan sistem sosial yang lebih luas.
(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here