Dana Desa Bakal Dimanfaatkan Tuntaskan Kasus Malaria di Sulawesi Utara

0
25
Para kepala desa dari sejumlah kabupaten yang menjadi sasaran penanganan kasus malaria.
MANADO-Penyakit Malaria jumlahnya telah menurun jauh di Provinsi Sulawesi Utara. Dua dekade yang lalu, jumlah penduduk yang sakit Malaria bisa mencapai ribuan orang per tahun.
Tahun 2019 jumlahnya menurun. Bahkan sampai bulan September hanya ada 251 kasus. Namun demikian, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Dinas Kesehatan Daerah bertekad untuk menekan angka ini sampai menjadi dibawah 20 kasus per tahun.
Program ini dikenal sebagai Program Eliminasi Malaria. Sekarang ini ada 6 Kabupaten Kota di Provinsi Sulawesi Utara yang sudah berhasil Eliminasi. Yakni Minahasa, Tomohon, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Selatan, Bolaang Mongondow Timur dan Kota Kotamobagu.
“Tahun 2020 kita targetkan Kabupaten Bolaang Mongondow dan Minahasa Utara mendapat status Eliminasi Malaria. Tahun 2021, Kabupaten Mitra, Minsel, Kota Bitung dan Kota Manado. Sementara Tahun 2022 nanti seluruh kabupaten di kepulauan selesai dengan masalah Malaria,” tegas dr Debie KR Kalalo MScPH, Kepala Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara melalui Kabid P2P dr Steaven Dandel.
Untuk mempercepat upaya percepatan Eliminasi ini, Dinas Kesehatan Sulut kemudian melakukan langkah strategis. Lewat kegiatan advokasi pemanfaatan dana desa dalam upaya eliminasi Malaria.
Acara yang dilaksanakan di Hotel Quality pada 9-11 Oktober 2019 menargetkan para Kepala Desa yang masih sangat tinggi endemisitas malarianya seperti di Bolmong, Sangihe, Talaud, Sitaro, Mitra dan Minsel.
Narasumber yang merupakan pakar Malaria dunia dr Ferdinand Laihad, hadir dalam pertemuan ini.
Menurutnya, pemanfaatan Dana Desa merupakan langkah strategis untuk memobilisasi sumber daya desa. Terutama dalam memanipulasi lingkungan yang potensial menularkan malaria,” tandas dokter Fer, panggilan akrab beliau.
“Penularan Malaria sangat berhubungan dengan kondisi lingkungan desa. Sehingga perhatian utama harus diarahkan ke masalah ini, dan jangan hanya fokus di layanan penemuan penderita dan pengobatan Malaria,” demikian ditambahkan dokter Fer yang adalah mantan Kepala Sub Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Malaria Kementerian Kesehatan RI, yang juga mantan Malaria Advisor pada kantor World Health Organization (WHO) di New Delhi, India.
(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here