FPS 2019, Tilaar Sebut Lebih Ke Nuansa Budaya

0
87
Kepala Dinas Pariwisata Sangihe Jeffry Tilaar

TAHUNA – Pelaksanaan Iven tahunan yang tertuang dalamĀ  Festival Pesona Sangihe (FPS) tahun 2019 dipastikan akan segera dimulai.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jeffry Tilaar SE mengatakan, saat ini pihaknya sementara menunggu perampungan kegiatan yang akan ditampilkan saat pelaksanan ivent tahunan tersebut.

“FPS tahun 2019, sekarang tinggal menunggu perampungan, karena kegiatan yang akan ditampilkan itu sudah disepakati semua. Ada kurang lebih 20 kegiatan yang akan dilaksanakan,” ujar Tilaar.

Lebih lanjut Tilaar menyatakan untuk FPS kali ini lebih cenderung kenuansa budaya yang akan ditampilkan, sesuai dengan tagline Pemkab Sangihe yaitu “Kembalikan Sangihe Ku”.

“Maksudnya ini, lebih ke krisis budaya. Seperti saat ini banyak hal yang mulai terkikis. Contohnya, penggunaan bahasa daerah Sangihe, masyarakat Sangihe sudah jarang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi kaum milenial sekarang. Nah, itu harus kita buat terobosan dan juga ada kegiatan lain yang harus kita lestarikan yakni seni budaya Sangihe,” ungkapnya.

Ia juga menyatakan selama hajatan FPS, akan ada pergelaran pentas senibudaya Sangihe.

“Ada pergelaran atau pentas senibudaya baik tingkat umum maupun tingkat sekolah, apakah itu masamper, potong tamo, musik bambu, empat water, serta ada penampilan kirab budaya dan pawai pembangunan dan pameran pembangunan,” jelasnya kembali.

Terkait dengan nuansa budaya maka pada pelaksanaan FPS tahun 2019, pembangunan stand pameran nantinya
75 persen diwajibkan menggunakan bahan bambu, dan untuk atapnya yaitu menggunakan khas Sangihe yakni Katu yang berbahan dari sagu duri.

‘Yang menarik pada pameran pembangunan stailnya mengunakan bahan dari bambu, karena selama ini mengunakan stand itu dari tripleks dan seng, nah sekarang tripleks dan seng untuk pembeliannya kan masuk ke pengusaha, kalau dari bambu dan katu pastinya pembeliannya bagi masyarakat petani dan pengrajin katu sendiri. Minimal 75 persen harus dari bambu dan katu,” imbuh Tilaar.

(sam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here