Kena Bencana Hingga Jadi Waduk, Inilah Desa yang Kini ‘Menghilang’ dari Peradaban

0
57

SERBA-SERBI – Sebuah peristiwa yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua

Legenda soal kota atau wilayah yang hilang seperti Atlantis, rupa-rupanya juga pernah terjadi di Indonesia. Hanya saja jika Atlantis kerap dianggap sebagai hal yang fiktif, peristiwa raibnya sebuah wilayah di tanah air adalah kejadian yang nyata adanya. Nggak percaya, lihat saja saat air Waduk Jatigede surut saat musim kemarau.  Terlihat adanya bekas pemukiman warga yang kini tenggelam menjadi saah satu areal waduk.

Selain eks perkampungan, beberapa wilayah di Indonesia tercatat telah dianggap ‘hilang’ dari peredaran. Penyebabnya pun bermacam-macam. Mulai terkena imbas dari bencana alam yang ada, peristiwa berbau mistis yang tak masuk di akal, hingga kesalahan teknis dari sebuah perusahaan. Buntut dari hal tersebut, semua desa yang dulu pernah dihuni manusia, kini telah terkubur berkalang tanah dan air. Di mana dan bagaimana kondisinya?

Desa di Sidoarjo yang ‘menghilang’ karena semburan lumpur

Semburan lumpur yang terjadi bersamaan dengan aktivitas pengeboran PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, memilik dampak yang luas secara global. Tak hanya dirasakan oleh masyarakat lokal, kejadian ini bahkan menjadi bahasan utama di forum internasional yang melibatkan 90 ahli geologi dari seluruh dunia. Tercatat, semburan lumpur telah ‘mengubur’ 16 desa di 3 kecamatan di Sidoarjo.

rumah yang terendam oleh lumpur Lapindo
rumah yang terendam oleh lumpur Lapindo

Lebih dari 25 ribu warga Sidoarjo harus mengungsi, 8.200 orang di antaranya terpaksa dievakuasi karena kampung halamannya tidak bisa ditempati lagi. Properti seperti 10.426 unit rumah warga, 77 rumah ibadah, kantor-kantor pemerintahan, dan sekolah-sekolah, semua terendam lumpur. Instalasi seperti jaringan listrik, telepon, air bersih, berikut persawahan milik warga, serta ribuan ekor hewan ternak, juga ikut menjadi korban lumpur yang hingga kini masih terus keluar.

Dukuh Legetang yang ‘dihukum’ tertimbun bumi karena tingkah laku penduduknya

Ada sebuah kata-kata yang sering kita dengar menyatakan, bahwa tindakan maksiat yang dilakukan oleh manusia akan dibalas oleh Tuhan jika dianggap telah melampaui batas. Hal inilah yang dialami oleh Dusun Legetang, sebuah pemukiman penduduk yang berada tepat di kaki gunung Pengamun-amun. Layakya masyarakat di Indonesia, keberadaan gunung tersebut juga tak lepas dari mitos dan cerita yang bersumber dari kearifan lokal setempat.

Tugu peringatan di Dukuh Legetang
Tugu peringatan di Dukuh Legetang

Menurut mitos yang berkembang, Dusun Legetang lenyap dalam semalam akibat murka alam atas perilaku maksiat mereka yang kelewat batas. Namun jika dilihat dari sisi geologis, lokasi perkampungan tersebut memang rawan tertimpa bencana seperti tanah longsor. Terlebih, lokasinya diapit tebing-tebing dua gunung yang curam dan sekaligus jadi lahan pertanian. Wajar jika ada desa semacam Dusun Legetang tertimbun.

Desa Petobo yang lenyap ditelan gempa Palu

Saat gempa bumi dan tsunami besar melanda Palu, Sulawesi Tengah, penduduk di Desa Petobo juga harus bertaruh nyawa menghadapi ancaman likuifaksi. Fenomena alam itulah yang akhirnya membuat kampung tersebut hilang ditelan bumi. Saat gempa terjadi, tanah di sekitarnya seolah bergerak, bergulung-gulung hingga mampu melipat jalanan aspal yang keras.

Puing-puing bangunan di Desa Petobo yang hancur karena likuifaksi
Puing-puing bangunan di Desa Petobo yang hancur karena likuifaksi

Rumah yang berada di kawasa Petobo kebanyakan telah amblas ke dalam tanah. Beberapa bahkan terlihat naik ke atas hingga dua meter. Sementara kondisi jalanan terlihat tampak retak-retak dan seolah ‘tergulung’ akibat likuifaksi yang terjadi. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tedapat 5.000 orang lebih yang masih hilang di Balaroa dan Petobo, dua desa yang lenyap ditelan bumi.

Pembangunan Waduk Jatigede yang lenyapkan kampung dan sawah penduduk

Dengan tujuan untuk membangun fasilitas rakyat, Desa Jatibungur di Kabupaten Sumedang menjadi korban karena harus ditenggelamkan oleh air dari Waduk Jatigede. Namun saat mengering, wilayah yang hilang itu kini nampak kembali ke permukaan. Terlihat, hanya puing-puing bangunan yang sebagian telah hancur dan pepohonan kering di beberapa titik.

Bekas bangunan di sebuah perkampungan yang kini tenggelam menjadi waduk
Bekas bangunan di sebuah perkampungan yang kini tenggelam menjadi waduk

Waduk Jatigede telah menelan empat kecamatan, yakni Kecamatan Jatigede (Desa Ciranggem, Desa Jemah, Desa Mekarasih, dan Desa Sukakersa), Kecamatan Jatinunggal (Desa Pawenang dan Desa Simasari), Kecamatan Wado (Desa Wado, Desa Cisurat dan Desa Padajaya), dan Darmaraja yang terdiri dari Desa Cibogo, Desa Cipaku, Desa Jatibungur, Desa Karangpakuan, Desa Leuwihideung, Desa Pakualam, Desa Sukamenak, Desa Sukaratu, Desa Tarunajaya, dan Desa Cikeusi. Semua wilayah tersebut kini telah tenggelam di dasar air.

Meski telah tiada, keberadaan daripada kampung yang telah menghilang itu tetap akan diingat sebagai suatu pembelajaran hidup, terutama bagi generasi di masa depan. Bukan apa-apa, hal ini bisa menjadi peringatan bagi kita semua, bahwasannya setiap perbuatan yang kita lakukan pasti memiliki konsekuensinya sendiri. Termasuk harus siap kehilangan tempat tinggal dan wilayah seperti kejadian di atas.

Sumber/ BOOMBASTIS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here