Kisah Mendebarkan Paspampres RI di AS dan Belanda, Saling Todong Pistol hingga Benny Gebrak Meja

0
277
Ilustrasi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) RI.

Beda presiden bisa beda juga cerita Paspampresnya. Setiap zaman memang selalu akan berbeda.

Inilah dua kisah mendebarkan Paspampres saat kunjungan Presiden RI ke Amerika Serikat dan Belanda.

SERBA-SERBI – Kali ini kisah tentang  Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di era Presiden Soeharto.

Di era Soeharto Pasukan pengaman Presiden (Paspampres) di era Pemerintahan Soeharto pernah beradu-kekuatan dengan pengawal dari PM Israel.

Semua terjadi di New York, Amerika Serikat.

Cerita di mulai dari pengalaman seorang Jenderal TNI yang pernah saling todong senjata ke pengawal pribadi perdana menteri Israel, terjadi saat presiden Soeharto berkunjung ke New York, Amerika Serikat.

Dilansir dari buku ‘Warisan (daripada) Soeharto’ penerbit Kompas tahun 2008, Jenderal TNI tersebut tak lain adalah Letnan Jenderal (Letjen) TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

Saat itu, ia menjadi salah satu personel Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) Soeharto.

Tepatnya pada tanggal 22 Oktober 1995, Presiden Soeharto menginap di hotel Waldorf Towers lantai 41 di kamar presidential suite untuk menghadiri acara PBB di sana.

Saat itu Presiden Soeharto menjabat sebagai ketua Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

OKI merupakan posisi yang sangat berpengaruh bagi anggota-anggotanya yang mayoritas negara Timur Tengah.

Pak Harto
Pak Harto

Karena alasan itulah Perdana Menteri (PM) Israel yang saat itu dijabat oleh Yitzak Rabin ingin menemui Presiden Soeharto di hotel tempatnya menginap.

Rabin dengan 4 pengawalnya yang berasal dari Mossad (Pasukan Khusus Israel) kemudian datang untuk menyampaikan kemauannya bertemu Soeharto.

Namun, cara mereka bertindak tidak mematuhi protokol keamanan serta terkesan arogan, sehingga PM Yitzak Rabin beserta 4 pengawalnya dicegat oleh Paspampres Soeharto sebelum masuk lift.

Terlebih saat itu Soeharto sedang menerima kunjungan presiden Sri Lanka.

Salah satu personel Paspampres yang terlibat saat itu adalah Letnan Jenderal (Letjen) TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

Setelah mengutarakan niatnya, PM Rabin beserta para personel Mossad itu dikawal oleh Letjen Sjafrie menemui Soeharto

Saat hendak memasuki lift terjadilah ‘insiden kecil’ yang cukup menegangkan.

Para pengawal PM Rabin tidak mau satu lift dengan Sjafrie dan para personel Paspampres RI lainnya.

Presiden Soeharto
Presiden Soeharto

Karena para pengawal Perdana Menteri Israel itu menaruh kecurigaan pada Paspampres RI, sehingga mereka menolak satu lift bersama Sjafrie beserta dua personel Paspampres lain.

Padahal, Sjafrie dan personel Paspampres lainnya sudah dikenalkan dalam protokol Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) PBB yang artinya mereka memang personel resmi pengamanan presiden Soeharto.

Terjadi adu mulut antara Sjafrie dengan kepala pengawal Perdana Menteri Israel yang notabene jebolan Mossad itu, karena dianggap melanggar protokol keamanan Paspampres.

Dengan gerakan refleks sangat cepat, pengawal Rabin tiba-tiba sudah mengeluarkan senapan otomatis Uzi dari balik jasnya.

Dia hendak menempelkan moncong senjata  mungil tapi mematikan itu ke perut Sjafrie dan leher Sjafrie dicengkeram dengan keras.

Namun, Sjafrie tak kalah gesit dan sudah menempelkan terlebih dahulu pistol Barretanya ke perut pengawal PM Israel itu.

Kejadian menegangkan itu bahkan membuat Perdana Menteri Yitzak Rabin cemas,  lantaran dua personel Paspampres lainnya sudah siap dengan senjatanya masing-masing.

“Sorry I understand it.”

Kata itulah kemudian terlontar dari mulut pengawal PM Rabin, hingga mengakui kesalahan dan arogansinya.

Keadaan kembali mereda setelah pengawal Rabin perlahan-lahan menurunkan senjata mereka.

Hampir saja terjadi adu tembak antara Paspampres Soeharto dengan pengawal Perdana Menteri Israel saat itu.

Alhasil, Yitzak Rabin dan pengawalnya harus mau mentaati protokol kemanan Paspampres RI.

Mereka kemudian dikawal menemui Presiden Soeharto meskipun Yitzak Rabin harus rela menunggu 15 menit.

Kunjungan Presiden Soeharto ke Belanda

Pada akhir Bulan Agustus tahun 1970, Presiden Soeharto berkunjung ke Belanda.

Presiden Soeharto akan dijadwalkan menuju Istana Huis Ten Bosch, Den Haag, tempat keluarga Kerajaan Belanda menetap.

Kunjungan Pak Harto itu sebenarnya merupakan ‘lawatan yang kaku’ karena pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1970-an belum mengakui tanggal kemerdekaan RI yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Seperti dikutip dari Wikipedia, pengakuan ini baru dilakukan pada 16 Agustus 2005, sehari sebelum peringatan 60 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, oleh Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot dalam pidato resminya di Gedung Deplu.

Dari buku ‘Benny Moerdani Yang Belum Terungkap’ ,Tempo, PT Gramedia, 2015.

Kunjungan Soeharto saat itu tidak disukai oleh Kerajaan Belanda, mengingat di era Perang Kemerdekaan, Soeharto sebenarnya merupakan musuh utama militer Belanda.

Aparat keamanan Belanda secara tidak langsung terpengaruh oleh sikap Kerajaan Belanda, dan hanya menyiapkan sistem pengamanan yang tidak maksimal sehingga bisa membahayakan keselamatan Presiden Soeharto.

Menurut Benny, kunjungan Presiden Soeharto itu memang berisiko tinggi karena di Belanda masih banyak anggota simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS) yang bisa membahayakan keselamatan Soeharto.

Untuk memastikan keamanan Presiden Soeharto, Benny kemudian memeriksa rute yang akan dilalui menuju Istana Huis Ten Bosch.

Rute itu ternyata rawan oleh ancaman tembakan sniper dari jendela-jendela bangunan sepanjang jalan dan adanya perempatan lampu merah yang rawan oleh aksi penyergapan bersenjata.

Hasil inspeksi itu kemudian dirapatkan oleh Benny bersama para agen rahasia dan aparat keamanan Belanda.

Intinya Benny meminta agar jendela-jendela di bangunan sepanjang jalan yang dilewati Presiden Soeharto dijaga ketat, demikian pula persimpangan lampu merah yang akan dilintasi harus disterilkan, untuk mengantisipasi kalau ada serangan dari anggota simpatisan Republik Maluku Selatan (RMS).

Tapi para agen rahasia dan aparat keamanan Belanda ternyata menolak permintaan Benny.

Karena merasa diabaikan, Benny pun mengamuk dan mebentak para aparat keamanan Belanda itu sambil menggebrak meja.

“Kami hanya punya satu Soeharto! Apakah Anda bisa menjamin keselamatannya…!?” bentak Benny dalam Bahasa Belanda

Sebagai agen rahasia (intelijen), Benny memang dikenal mahir berbahasa Jerman, Belanda, Inggris, China, dan Bahasa Korea.

Nyali para aparat keamanan Belanda menjadi agak ciut saat berhadapan dengan Benny yang merupakan veteran perang RI dalam Perang Kemerdekaan dan Operasi Trikora melawan pasukan Belanda.

Tapi Benny tidak bisa berbuat banyak karena sedang berada di negara lain. Apalagi pemerintah Belanda sendiri ternyata tidak begitu menyukai Soeharto.

Kekhawatiran Benny ternyata terbukti, sebanyak 33 anggota RMS bersenjata menyerbu Wisma Duta (rumah Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda) pada 31 Agustus 1970 malam, sehari sebelum jadwal kunjungan Soeharto ke Istana Huis Ten Bosch, Den Haag.

Pak Harto dan Bu Tien Seoharto.
Pak Harto dan Bu Tien Seoharto.

Untung saja Duta Besar RI,Taswin Natadiningrat, lolos dari serbuan.

Karena aksi bersenjata anggota RMS yang ternyata tidak bisa dicegah oleh aparat keamanan dan agen rahasia itu, menjadi pukulan terberat bagi pemerintah Kerajaan Belanda.

Intelijen Belanda sendiri menjadi sadar bahwa apa yang disampaikan oleh Benny sambil marah-marah ternyata benar.

Rombongan Presiden Soeharto yang berkunjung ke Istana Huis Ten Bosch pun kemudian mendapat pengawalan sangat ketat dan kunjungan tidak meggunakan kendaraan darat melainkan helikopter.

Sumber/ hetanews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here