Ini Transaksi ‘Aneh’ yang Bikin Garuda Indonesia Bisa Untung

0
693

Jakarta – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) pada 2018 berhasil mengantongi laba bersih sebesar US$ 809,85 ribu atau setara Rp 11,33 miliar (kurs Rp 14.000). Suatu capaian yang luar biasa, mengingat sebelumnya BUMN ini terus mengalami kerugian.

Perolehan laba itu pun tertuang dalam laporan keuangan perusahaan 2018. Namun laporan keuangan ini dipertanyakan, bukan dari pihak luar melainkan dari komisaris sendiri.

Ada dua komisaris yang enggan menandatangani laporan keuangan 2018 Garuda Indonesia yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria.

Kedua komisaris itu merasa keberatan dengan pengakuan pendapatan atas transaksi Perjanjian Kerja Sama Penyediaan Layanan Konektivitas Dalam Penerbangan, antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia. Pengakuan itu dianggap tidak sesuai dengan kaidah pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) nomor 23.

Sebab manajemen Garuda Indonesia mengakui pendapatan dari Mahata sebesar US$ 239.940.000, yang diantaranya sebesar US$ 28.000.000 merupakan bagian dari bagi hasil yang didapat dari PT Sri Wijaya Air. Padahal uang itu masih dalam bentuk piutang, namun diakui perusahaan masuk dalam pendapatan.

Melansir laporan keuangan perusahaan, Rabu (24/4/2019), pada tanggal 31 Oktober 2018, Grup Garuda Indonesia dan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) mengadakan perjanjian kerja sama yang telah diamandemen, terakhir dengan amandemen II tanggal 26 Desember 2018, mengenai penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan dan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten.

Mahata menyetujui membayar biaya kompensasi atas hak pemasangan peralatan layanan konektivitas dalam penerbangan untuk 50 pesawat A320, 20 pesawat A330, 73 pesawat Boeing 737-800 NG dan 10 pesawat Boeing 777 sebesar US$ 131.940.000 dan biaya kompensasi atas hak pengelolaan layanan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten untuk 18 pesawat A330, 70 pesawat Boeing 737-800 NG, 1 pesawat Boeing 737-800 MAX dan 10 pesawat Boeing 777 sebesar USD 80.000.000 kepada Grup setelah ditandatangani perjanjian kerja sama.

Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Fuad Rizal tidak memungkiri bahwa uang itu masih dalam bentuk piutang. Namun menurutnya hal itu dilakukan tidak melanggar kaidah penyajian laporan keuangan.

Soal laporan keuangan memang secara PSAK 23 itu memang dimungkinkan dicatatkan di 2018. Walaupun belum ada pendapatan yang diterima,” ujarnya di Garuda City Center, Cengkareng, Tangerang, Rabu (24/4/2019).

Dia juga menegaskan bahwa laporan keuangan Garuda Indonesia 2018 juga melalui proses audit oleh auditor independen dan mendapatkan predikat wajar tanpa pengecualian.

Sudah diaudit dan dapat predikat WTP,” tegasnya.

Transaksi itu yang membuat laporan keuangan Garuda Indonesia berubah 180 drajat. Bayangkan, di kuartal III-2018 perusahaan masih mengalami kerugian US$ 114,08 juta atau atau Rp 1,66 triliun jika dikalikan kurs saat itu sekitar Rp 14.600. Kerugian sebesar itu bisa ditutupi dan bahkan berbalik untung US$ 809,85 ribu atau setara Rp 11,33 miliar (kurs Rp 14.000) dalam waktu hanya 3 bulan.

Sumber/ detikFinance

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here