Walau Dianggap Kemampuannya Terbatas, Nyatanya Kapal Selam Indonesia Pernah Buat Panik AL Prancis

0
495
Personel Kopaska dengan latar belakan KRI Nanggala 402.

Jakarta, – Pernyataan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto mengenai keterbatasan kemampuan kapal selam Type 209 Indonesia mengundang berbagai pendapat.

Sudah berusia lebih dari 38 tahun, KRI Cakra dan KRI Nanggala masih setia bertugas mengawal kedaulatan Republik Indonesia tanpa kenal lelah.

Meski begitu kedua alutsista sepuh tersebut tetap harus diganti mengingat tuntunan tugas kedepannya lebih kompleks dan berat.

Kita beli kapal selam oke dari Korea. Kapal selam itu adalah tipe 209, kemampuannya sangat terbatas dengan yang dibeli Singapura, dia punya tipenya sudah 218 yang bisa luncurkan peluru kendali dari bawah laut,” kata Prabowo dalam debat keempat Pilpres 2019, Sabtu (30/3/2019).

Minggu (31/3/2019) namun ada sebuah kisah lucu sekaligus menegangkan yang melibatkan KRI Cakra bersinggungan dengan AL Prancis.

Saat itu tahun 1987, awak KRI Cakra sudah berada di Jerman untuk membawa pulang kapal selam tersebut ke Indonesia.

Proses pemulangan KRI Cakra ini tidaklah seperti kapal selam negara lain yang diangkut dengan kapal besar, namun KRI Cakra akan berlayar dari Jerman langsung menuju Indonesia.

Pelayaran tersebut direncanakan dari tanggal 16 Juni 1987 sampai 13 Agustus 1987.

Maka berlayarlah KRI Cakra bersama dengan krunya dari Jerman menuju Indonesia.

Proses pelayaran jarak jauh dengan kapal selam bukanlah perkara mudah, apalagi ketika sampai di pulau Sicilia, Italia kemudi horizontal KRI Cakra sempat tersangkut jaring nelayan setempat.

Tapi semua kendala dapat diatasi oleh awak kapal KRI Cakra.

Ketika melewati terusan Suez dan masuk ke Laut Merah rupanya dari perairan Jibouti, KRI Cakra sudah dikuntit oleh sebuah pesawat intai maritim P3 Orion milik Angkatan Laut Prancis.

Maksud dari P3 Orion AL Prancis tersebut ialah memata-matai KRI Cakra dan mengambil data-data tentang kapal selam milik Indonesia tersebut.

KRI Cakra kemudian menyelam sampai kedalaman 75 meter dibawah permukaan laut.

Tak mau kehilangan sasarannya P3 Orion Prancis kemudian melemparkan Sonobouy, yakni semacam alat pemancar sonar yang dicemplungkan ke laut untuk mendeteksi keberadaan kapal selam.

P-3C Orion
P-3C Orion

Tapi KRI Cakra bukannya menghindari pancaran sonar tersebut.

Komandan kapal malah menyuruh agar KRI Cakra naik ke permukaan, menampakkan diri ke pesawat milik AL Prancis itu.

Lebih gilanya komandan lantas menyuruh awak kapal untuk mengambil sonobouy itu.

Sonobouy lantas diambil dan dimatikan transponder sonar pelacaknya kemudian di bawa masuk ke dalam kapal selam.

Melihat hal itu awak pesawat P3 Orion Prancis binung dan panik lantaran sonobouy yang harusnya melacak KRI Cakra malah ‘digondol‘ oleh targetnya sendiri.

Harga sonobouy juga mahal pula.

Hingga pesawat itu tak bisa lagi melacak keberadaan kapal selam milik Indonesia tersebut.

Setelah selesai mengambil ‘souvenir’ dari AL Prancis untuk dibawa pulang ke Indonesia maka KRI Cakra kembali menyelam dan langsung tancap gas pulang ke Indonesia.

Saat ini TNI AL mempunyai tiga buah kapal selam yang semuanya dinamai senjata milik tokoh pewayangan.

Dua diantaranya ialah KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 buatan Jerman.

Sedangkan satunya yakni KRI Nagapasa 403 dan akan ditambah lagi KRI Ardadedali 404 serta KRI 405 Alugoro.

Semuanya buatan Korea Selatan namun yang terakhir melalui transfer of technology (TOT) dibuat di galangan kapal PT.PAL Indonesia.

Sumber/ Gridhot.ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here