Katarak Bisa Terjadi Pada Bayi, Faktor Risiko di Masa Kehamilan

0
251
Ketua Perdami Sulawesi Utara dr Dyana Watania SpM.
MANADO-Penyakit katarak tidak identik terjadi pada orang yang sudah berumur. Ternyata, katarak bisa juga diderita oleh bayi baru lahir.
Data RSUP Kandou pada tahun 2018, sebanyak 30-an pasien bayi didiagnosa menderita katarak.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Sulawesi Utara dr Dyana Watania SpM mengatakan, katarak pada bayi disebut Katarak Kongenital.
Yaitu lensa mata bayi yang berwarna hitam ditutupi dengan noda berwarna keabu-abuan sehingga menyebabkan kekeruhan. Pada beberapa kasus mungkin tidak terlalu berdampak pada penglihatan, tetapi pada kasus yang parah dapat menyebabkan kebutaan.
Normalnya, lensa mata ini berfungsi untuk memfokuskan cahaya yang masuk ke mata menuju retina, sehingga mata bisa menangkap gambar dengan jelas.
Namun, jika terjadi katarak, sinar cahaya yang masuk ke mata menjadi tersebar ketika melewati lensa yang keruh, sehingga gambar yang diterima mata menjadi kabur dan terdistorsi.
Jika anak Anda menderita katarak kongenital, kata Watania, tanda-tandanya seperti noda keabu-abuan yang terlihat pada pupil mata bayi Anda atau bisa saja tidak.
Kemudian, penglihatan bayi terlihat tidak peka dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya, bayi tidak menoleh ketika ada orang di sampingnya. Tanda lain, pergerakan mata bayi yang tidak biasa.
Jika menemukan kasus ini, bayi tersebut harus segera dioperasi setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan.
Faktor risiko terjadi katarak kongenital, sebut Watania, yaitu adanya virus yang ditularkan oleh ibu kepada janin di masa kehamilan, atau konsumsi obat-obatan yang tidak sesuai anjuran dokter spesialis kandungan.
Di sisi lain, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sulut dr Steaven Dandel MPH menambahkan, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah menekan kasus katarak kongenital, adalah mengkampanyekan pemberian imunisasi campak dan rubella terhadap anak usia 9 bulan hingga 15 tahun.
“Supaya penularan virus berbahaya bagi anak-anak bisa dihindari dan bebas dari berbagai jenis penyakit,” tutup Dandel.
(*/redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here