Laki-laki Indonesia Rentan Kanker Paru, Tanda-tanda Ini Patut Diwaspadai

0
1079
Foto: istimewa
MANADO-Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk laki-laki adalah kanker paru.
Yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk. Dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk.
Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN) dalam rilisnya menyebut, risiko kanker paru meningkat pada mereka yang berkaitan dengan asap rokok.
Seperti perokok aktif, perokok pasif, atau mereka yang terpajan dengan bahan-bahan karsinogen seperti asbes dan radon.
Gejala kanker paru berupa kelelahan, penurunan aktivitas, batuk, sesak napas, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, nyeri dada, dan batuk darah.
Tanda-tanda kanker untuk diperhatikan, dikenalkan dengan istilah WASPADA. Yaitu,
  • Waktu buang air kecil, adakah gangguan atau perubahan kebiasaan
  • Alat cerna terganggu atau sukar menelan
  • Suara serak atau batuk yang tak kunjung sembuh
  • Payudara atau bagian lain memperlihatkan benjolan
  • Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifat, makin besar atau gatal
  • Darah atau lendir yang tidak normal yang keluar dari tubuh
  • Adanya luka yang tak mau sembuh
Beberapa jenis pemeriksaan untuk mendiagnosis kanker paru di antaranya, rontgen thoraks, CT scan, biopsi dan pemeriksaan sitologi atau jaringan (patologi anatomi), serta bronkoskopi.
Pencegahan kanker paru, disarankan oleh KPKN, ada tiga bentuk.
Pertama, pencegahan primer yaitu mencegah bukan perokok agar jangan menjadi perokok. Baik itu remaja dan perempuan yang belum merokok.
Kedua, pencegahan sekunder. Yaitu penghentian perokok aktif dengan menginformasikan bahaya merokok dan usaha penghentian.
Ketiga, pencegahan tersier melalui usaha menemukan penderita kanker paru stadium dini.
KPKN juga mengingatkan, walau kanker paru menjadi momok serius bagi kaum laki-laki, justru bukan tidak berisiko juga bagi kaum perempuan.
Sebab, kanker paru menduduki peringkat empat untuk kaum perempuan setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker usus besar.
Sementara itu, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anung Sugihantono menuturkan, untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia, perlu adanya upaya masif.
Dilakukan oleh semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian berbagai jenis kanker.
Hari Kanker Sedunia 2019, kata Sugihantono, mengangkat tema ‘I Am and I Will’ (saya adalah dan saya akan).
“Tema ini bermakna mengajak semua pihak terkait menjalankan perannya dalam mengurangi beban akibat penyakit kanker,” pungkas Sugihantono.
(*/redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here