Ada 3 Jenis Penyakit Kanker Terbanyak Dirawat di Radiotherapy Centre RSUP Kandou

0
582
dr Enrico Napitupulu SpOnk Rad (berdiri) menjadi pemateri dalam seminar nasional keperawatan di Ruang Mapalus Kantor Gubernur Sulut, Sabtu (2/2/2019).
MANADO-Momentum peringatan Hari Kanker Sedunia pada 4 Februari, seluruh rakyat Indonesia diajak untuk semakin peduli dengan kesehatan agar terhindar dari penyakit yang tergolong silent killer tersebut.
Kepala Instalasi Radiotherapy Center RSUP Kandou Manado dr Enrico Napitupulu SpOnk Rad mengakui, ada 3 jenis kanker yang paling banyak mereka tangani.
Yaitu kanker serviks (leher rahim), kanker payudara, dan kanker nasofaring (jenis kanker yang tumbuh di area hidung dan mulut).
dr Enrico menyebut, Union for International Cancer Control (UICC) memprediksi pada tahun 2030 akan ada 75 juta warga dunia hidup dengan penyakit kanker.
“Jika dibandingkan data pada 2005 ada 25 juta warga dunia menderita kanker, berarti terjadi peningkatan kasus kanker mencapai 300 persen. Dengan 17 juta kasus kematian akibat penyakit ini,” sebutnya.
Alat Cobalt yang tersedia di Radiotherapy Centre RSUP Kandou untuk penanganan penyakit kanker.
Alat Cobalt yang tersedia di Radiotherapy Centre RSUP Kandou untuk penanganan penyakit kanker.
Lanjut dr Enrico, Radiotherapy Center RSUP Kandou yang telah berdiri sejak tahun 2016, mempunyai alat-alat canggih untuk terapi radiasi dalam membunuh sel-sel kanker.
Yang bekerja merusak sel kanker dengan menghancurkan materi genetika sel yang mengontrol pertumbuhan dan pembelahan diri sel kanker. “Radioterapi juga bermanfaat untuk membantu pengobatan hampir semua jenis kanker dan jenis-jenis tumor jinak,” ucap dr Enrico.
PENYAKIT KANKER DI INDONESIA URUTAN 8 ASIA TENGGARA
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menerangkan, angka kejadian penyakit kanker di Indonesia berada pada urutan 8 di Asia Tenggara.
Prevalensi kasus kanker sesuai data Riskesdas, menunjukkan adanya peningkatan. Dari 1,4 per 1000 penduduk di tahun 2013, menjadi 1,79 per 1000 penduduk di tahun 2018. 
Untuk laki-laki, kejadian tertinggi adalah kanker paru (19,4 per 100.000 penduduk), diikuti kanker hati (12,4 per 100.000 penduduk).
Sedangkan pada perempuan, tertinggi adalah kanker payudara (42,1 per 100.000 penduduk), diikuti kanker leher rahim (23,4 per 100.000 penduduk).
Diakui Sugihantono, untuk pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia, khususnya dua jenis kanker terbanyak di Indonesia yaitu kanker payudara dan leher rahim, pemerintah telah melakukan berbagai upaya.
Antara lain, deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim pada perempuan usia 30-50 tahun.
Dengan menggunakan metode Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) untuk payudara, dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk leher rahim.
“Selain upaya diatas, Kementerian Kesehatan juga mengembangkan program penemuan dini kanker pada anak, pelayanan paliatif kanker, deteksi dini faktor risiko kanker paru, dan sistem registrasi kanker nasional,” tandasnya.
(*/redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here