Bidan NS Puskesmas Kendahe: Kampung KB Bantu Tekan Angka Kelahiran

0
234
Kampung KB Talawid di Kecamatan Kendahe yang dicanangkan pada 27 November 2018 silam.(foto: istimewa)
MANADO-Keberadaan Kampung KB telah menunjukkan pengaruh besar dalam menekan angka kelahiran di Sulawesi Utara (Sulut).
Diakui Bidan Grace Aritonang yang bertugas di Puskesmas Kendahe, Kabupaten Sangihe, angka kelahiran mulai dapat dikendalikan di Kecamatan Kendahe.
“Adanya Kampung KB sangat membantu kami petugas kesehatan dalam mengedukasi masyarakat agar bisa mengontrol kehamilan ibu,” ujar peserta Nusantara Sehat (NS), program Kementerian Kesehatan ini.
Plt Kepala BKKBN Sulut Drs Sugiyatna MM (kedua kanan) bersama Kabid Adpin Jacky Sambuaga SE (paling kiri), Kabid KS/PK Sitti Kamlah Takalamingan MSi (kedua kanan), dan Kasubid Bina Lini Lapangan Jan Kindangen SSos (paling kanan), usai Apel KORPRI, Kamis (17/1/2019).(foto: istimewa)
Plt Kepala BKKBN Sulut Drs Sugiyatna MM (kedua kanan) bersama Kabid Adpin Jacky Sambuaga SE (paling kiri), Kabid KS/PK Sitti Kamlah Takalamingan MSi (kedua kanan), dan Kasubid Bina Lini Lapangan Jan Kindangen SSos (paling kanan), usai Apel KORPRI, Kamis (17/1/2019).(foto: istimewa)
Di sisi lain, Plt Kepala BKKBN Sulut Drs Sugiyatna MM menyatakan, program Kampung KB akan terus ditingkatkan pada tahun ini.
Tidak hanya pada kuantitas, tapi juga kualitas penyelenggaraan Kampung KB tersebut.
“Supaya dapat menopang target BKKBN Sulut. Salah satunya mewujudkan angka kelahiran total atau TFR (total fertility rate) per PUS (pasangan usia subur) 15-49 tahun, di angka 2,18 anak,” sebut Sugiyatna.
Menko PMK Puan Maharani memberikan keterangan pers di Istana Negara.
Menko PMK Puan Maharani memberikan keterangan pers di Istana Negara.
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengingatkan, Program Kampung KB yang telah dibangun di berbagai provinsi kiranya dapat memenuhi harapan pemerintah.
Yaitu menciptakan kesejahteraan keluarga dan mempersiapkan generasi baru lebih berkualitas.
Menurut Puan, idealnya, ibu-ibu usia reproduktif memiliki 2,1 anak. Namun, saat ini posisi angka kelahiran masih bertengger di angka 2,6 anak.
“Angka ini sudah tidak ideal dan harus dikendalikan untuk menghindari masalah demografi dan kesejahteraan anak yang dapat terjadi,” ucapnya.
Puan juga menyoroti bahwa fenomena pernikahan dini menjadi salah satu faktor tingginya angka kelahiran. Dalam kasus pernikahan dini tersebut, memang ada perbedaan nilai antara norma masyarakat tertentu dengan hukum positif di Indonesia. Khususnya mengenai batasan usia pernikahan yang dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan anak.
“Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi penyuluh KB. Penundaaan usia pernikahan sampai dengan usia yang matang merupakan langkah bijak dan tidak sepenuhnya melanggar norma,” ujar Puan.
Secara khusus, Puan menekankan pentingnya perencanaan kelahiran anak yang dilakukan oleh orang tua.
“Kelahiran anak perlu direncanakan secara matang agar dapat tumbuh menjadi generasi sehat dan sejahtera. Perencanaan yang matang melalui KB juga dapat membantu orang tua agar dapat lebih baik mengalokasikan sisi finansial untuk pendidikan dan kesejahteraan anak sekarang maupun nanti,” katanya.
Puan juga mengimbau kepada para Petugas KB yang ditugaskan di Kampung KB, agar dapat mengetahui secara rinci kondisi masyarakat yang dihadapi.
“Menjadi petugas KB bukanlah hal yang mudah. Mereka harus mengetahui kondisi masyarakat dan harus mampu memberikan pelayanan yang baik. Ketersediaan alat-alat kontrasepsi juga perlu diperhatikan, agar pelaksanaan Program KB dapat berjalan dengan baik,” pungkas Puan.
(*/redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here