Dibawa Dalam Kondisi Syok, Sebabkan Pasien DBD Meninggal

0
357
Ketua Komisi IV DPRD Sulut James Karinda SH MH didampingi Dirut RSUP Kandou Dr dr Jimmy Panelewen SpB-KBD meninjau penanganan pasien DBD di Malalayang, Jumat (11/1/2019).
MANADOUpaya masif dilakukan instansi-instansi kesehatan di Sulut untuk menekan angka kematian akibat penyakit DBD.
Hanya saja, diharapkan kepada para keluarga pasien supaya lebih tanggap melihat kondisi anggota keluarga yang sudah menunjukkan gejala-gejala DBD. 
Dinas Kesehatan Sulut merilis, dari 24 pasien DBD yang meninggal pada 2018, sebanyak 13 orang hanya sempat dirawat kurang dari sehari di RS. 
Kemudian, 9 orang meninggal setelah dirawat selama 2-3 hari. Dan 2 pasien meninggal setelah dirawat lebih dari 4 hari. 
“Analisa menunjukkan bahwa keterlambatan pasien dibawa ke rumah sakit membuat penanganan lebih sulit dan pasien berisiko tinggi kehilangan nyawa,” ujar Kalalo.
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Kandou Manado Dr dr Jimmy Panelewen SpB-KBD mengatakan, pasien DBD di RS diklasifikasikan menjadi dua.
Yaitu DHF (Dengue Hemorrhagic Fever) dan DSS (Dengue Syok Syndrome). Per 11 Januari 2019, kata Panelewen, RSUP Kandou merawat 35 pasien DSS dan 30 DHF.
Dijelaskan Panelewen, pasien DSS dirawat secara intensif di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit). Sebab pasien DSS butuh pengawasan ketat.
Kondisinya ditandai dengan nadi cepat dan lemah, kulit dingin dan basah, gelisah dan tidak sadar. DSS ini dialami pasien setelah melewati tahap DHF.
Yaitu demam tinggi lebih dari 38°C selama 2-7 hari, nyeri perut parah disertai muntah terus menerus, dan tanda-tanda perdarahan berupa bintik-bintik merah di kulit, mimisan, gusi berdarah, muntah darah, bahkan BAB darah.
“Waspada jika sudah ada tanda-tanda tersebut pada bayi atau anak-anak. Jangan tunda dibawa ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut,” sebut Panelewen.
Di sisi lain, Wakil Ketua IDI Sulut dr Sonny Pasuhuk MKes DK berharap warga Sulut tidak panik. “Justru semakin waspada dengan memberantas sarang nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar,” sebut Pasuhuk.
Jika ada anggota keluarga mengalami panas (demam) dan tidak berespons dengan obat-obatan, imbau Pasuhuk, cepat periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Waspadai jika disertai muntah, sakit perut atau badan berkeringat dingin. Segera periksakan, jangan sampai jatuh ke situasi syok atau perdarahan,” tandasnya.
Dia menambahkan, masyarakat kiranya terus memberlakukan perilaku hidup sehat dan bersih. “Tingkatkan ketahanan tubuh kita dengan mengonsumsi buah-buahan, sayur dan minum suplemen, juga olahraga secara teratur dan istirahat cukup,” pungkasnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here