Seriusi Kasus Meninggal Karena DBD, 3M Plus Dinilai Lebih Mujarab Daripada Fogging

0
196
Salah satu kondisi rumah warga di Manado yang terpantau berisiko berkembang biak jentik nyamuk.(foto: istimewa)
MANADO-Kematian karena penyakit demam berdarah telah menjadi ancaman serius.
Data Dinas Kesehatan Sulawesi Utara, pada tahun 2018 dari 1.713 kasus dilaporkan ada 24 pasien meninggal.
Sedangkan pada tahun 2019 hingga 6 Januari, sudah 3 pasien meninggal dari 67 kasus yang ditangani.
Dikatakan Wakil Ketua IDI Sulawesi Utara dr Sonny Pasuhuk MKes, para dokter mensinyalir virus dengue (virus demam berdarah) telah menjadi semakin ganas oleh karena proses mutasi.
Sedangkan vektor atau perantara dalam hal ini nyamuk aedes aegepty jadi makin kebal terhadap insektisida. Dan itu karena proses resistensi akibat pengasapan atau fogging secara sembarangan.
Dia mengatakan, korban DBD bukan hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa. “Belum ada obat untuk membunuh virus demam berdarah sampai saat ini,” tuturnya.
Penanganan bila terkena hanyalah menjaga jangan sampai korban mengalami syok atau perdarahan, sampai demam dengue itu berlalu dengan sendirinya.
“Pengasapan atau fogging bukan solusi permanen. Justru dikhawatirkan akan mengakibatkan vektor (nyamuk) jadi lebih kebal terhadap insektisida di saat mendatang,” imbuh Pasuhuk.
Penanganan terbaik adalah dengan memberantas jentik nyamuk berkembang biak.
“Bila di sekitar kita tidak ada sampah plastik radius 300 meter, kemungkinan tertular demam berdarah jadi lebih kecil 70 persen,” sebutnya.
DINKES SULUT AJAK BERANTAS SARANG NYAMUK
Kadis Kesehatan Sulut dr Debie Kalalo MSc PH (kedua kiri), Kabid Kesmas dr Rima Lolong MKes (paling kiri), Kabid P2P dr Steaven Dandel MPH (kedua kanan), dan Kabid Yankes dr Lydia Tulus MARS saat konferensi pers di aula lantai 3 Kantor Dinkes Sulut.
Kadis Kesehatan Sulut dr Debie Kalalo MSc PH (kedua kiri), Kabid Kesmas dr Rima Lolong MKes (paling kiri), Kabid P2P dr Steaven Dandel MPH (kedua kanan), dan Kabid Yankes dr Lydia Tulus MARS saat konferensi pers di aula lantai 3 Kantor Dinkes Sulut.
Kepala Dinas Kesehatan Sulut dr Debie Kalalo MSc PH mengatakan, fogging bukan strategi utama pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Fogging tidak dilakukan secara rutin, hanya dilakukan saat terjadi kasus di suatu wilayah untuk memberantas nyamuk sebagai vektor atau pembawa penyakit DBD,” ujar Kalalo saat konferensi pers, Selasa (8/1/2019).
Dia pun berharap, masyarakat menggalakkan aksi bersih-bersih lingkungan untuk menghilangkan jentik nyamuk. Dari pada mengendalikan saat nyamuk sudah menjadi dewasa.
Pencegahan DBD paling efektif dan efisien adalah kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus.
Pertama, menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan penampungan air seperti bak mandi, ember penampungan air, penampung air lemari es, dan lainnya.
Kedua, menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, tong air, dan lain-lain.
Ketiga, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.
Sedangkan PLUS adalah saran tambahan agar rumah terbebas dari nyamuk.
Yaitu menaburkan bubuk larvasida (abate), menggunakan obat nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya ventilasi rumah, dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah sembarangan yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here