DPRD Manado dan Sulut Bikin Kecewa Jerman

0
1205
Pejabat dan politisi Jerman serta staf KBRI Berlin saat DPRD Kota Manado dan Sulawesi Utara batal datang dalam pertemuan di Kota Bremen.(foto: VIVA/Miranti Hirschmann)

BREMEN – Soal kunjungan kerja ke luar negeri, Wakil Rakyat kita kembali bikin geleng-geleng kepala. Kali ini, rombongan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Manado dan Provinsi Sulawesi Utara mangkir hadir dalam kunjungan kerja dengan sejumlah pejabat dan politisi di Jerman, padahal acara sudah dijadwalkan sebelumnya.

Tadinya akan ada sepuluh anggota DPRD yang kunjungan kerja ke Jerman. Lima dari DPRD Kota Manado, dan lima dari DPRD Provinsi Sulut. Nyatanya, cuma tiga yang datang dan itu pun tidak semua mereka hadir dalam pertemuan yang sudah dijadwalkan dengan tuan rumah.

Dari 5 acara dengan pihak tuan rumah Jerman dan Diaspora Indonesia di Kota Bremen, hanya 2 acara yang mereka hadiri. Kelima acara tersebut berlangsung selama 2 hari, yaitu 28 dan 29 November 2018, di kota pelabuhan terbesar Jerman, Bremen.

Cuma tiga Anggota DPRD Kota Manado yang terpantau hadir. Mereka adalah Richard Sualang (didampingi istri), Cicilia Longdong dan Vanda Ariantje Pinontoan

Sedangkan tujuh Wakil Rakyat yang masuk daftar, namun tidak hadir adalah Sonny Lela (Manado), Jonas Makawata (Manado), Edwin Lontoh (Sulut), Siska Mangindaan (Sulut), Netty Pantouw (Sulut), Jenny Muwek (Sulut), dan Inggrid Sondakh (Sulut).

Sejumlah acara yang telah dijadwalkan tidak dihadiri oleh para Anggota DPRD Manado dan Sulut. Acara tersebut adalah kunjungan ke pusat penelitian Frauenhofer IFAM pada 29 November. Hari berikutnya adalah Pertemuan dengan Kementerian Ekonomi, Tenaga Kerja dan Pelabuhan Kota Bremen.

Selanjutnya adalah pertemuan dengan Anggota Parlemen Kota Bremen, Dr. Antje Grotheer. Acara acara tersebut akhirnya hanya dihadiri oleh pihak KBRI Berlin.

Pihak Jerman dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin sebagai pihak pengundang sangat menyesalkan kejadian tersebut. Wakil Kepala Perwakilan RI untuk Jerman, Perry Pada, mengatakan, “Sangat disayangkan tidak bisa bertemu dengan anggota Parlemen Bremen. Persoalan yang kami dengar adalah visa dan connecting flight, sehingga tidak bisa hadir bersama kita di sini dan bertemu dengan Kementerian Perekonomian Bremen dan Parlemen Bremen”.

Masalah Izin
Event Organizer pertemuan tersebut, Rillya, yang juga ikut ke Bremen walaupun beda penerbangan, mengatakan bahwa seharusnya ada 10 orang yang ikut dalam rombongan. Lima dari DPRD Kota Manado dan 5 dari DPRD provinsi Sulawesi Utara.

“Tetapi karena pengurusan izin di daerah agak lama maka Visa ke Jerman sangat mepet keluarnya, baru pada hari selasa kemarin( 27 November 2018). Schedule-nya berantakan dan mereka sampai di sini tidak tepat waktu,” kata Rillya.

Dia mengaku bahwa proses izin bagi anggota DPRD untuk keluar negeri memang sangat panjang. “Harus dapat izin dari wali kota, kemudian gubernur, Depdagri, Setneg, terakhir permohonan Visa ke Kedutaan Jerman. Ini makan waktu dan ini membuat semua jadi mundur,” lanjut dia.

Rencana awal, para anggota DPRD ini diharapkan dapat menjajaki dan melihat bagaimana Kota Bremen menyediakan energi terbarukan dengan pembangunan berbagai kebun kebun tenaga angin untuk perumahan dan industri. Saat ini, dengan banyaknya jumlahh turis dan pembangunan hotel dan infrastruktur lainnya, bila tidak ditangani maka Kota Manado menghadapi ancaman krisis pasokan listrik di masa mendatang.

Setidaknya, pertemuan dengan pihak Swasta, yaitu perusahaan Operator Energi Bayu Jerman, WPD AG berhasil dihadiri oleh rombongan DPRD Kota Manado. Di sini mereka mendapat penjelasan bagaimana perusahaan operator energi tersebut mengontrol kebun kebun energi bayu yang mereka bangun di seluruh dunia.

Ditanya apakah kiranya rombongan DPRD akan melayangkan permintaan maaf pada pihak Jerman, Richard Sualang sebagai delegasi DPRD menjelaskannya. “Saya kira kalau kita tidak sempat hadir sebagai tamu, kami sangat menyesal karena rencana perjalanan terganggu,” kata Richard.

“Komunikasi kan bisa lewat email dan media lain. Para investor Jerman tetap bisa mendapat informasi cukup tentang Sulawesi Utara. Memang kalau bisa hadir bisa meyakinkan, tapi ini tidak memungkinkan,” lanjut dia.

Ditanya mengenai apa yang terjadi dengan penerbangan rombongan tersebut, Richard mengaku tidak bisa menjawab. “Mungkin bisa tanya pada maskapainya.”

Pada agenda pertemuan dengan Diaspora Indonesia, yaitu WNI dan para mahwasiswa di kota Bremen dan sekitarnya, berlangsung di sebuah kampus. Peserta pertemuan terpaksa menunggu sekitar 1 jam hingga para anggota DPRD Kota Manado ini tiba di tempat pertemuan.

(sumber: VIVA.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here