Biaya Pengobatan Rp100-250 Juta, Ini Pencegahan Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak

0
2846
Dr dr David Kaunang SpA(K) memberikan penyuluhan kesehatan terkait PJB pada anak.

MANADO-Biaya pengobatan dan perawatan terhadap anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) cukup fantastis. Menurut dokter ahli anak Dr dr David Kaunang SpA(K), biaya bisa mencapai 100-250 juta rupiah jika orang tua anak tidak memiliki jaminan kesehatan.

Mahalnya biaya tersebut karena harus memperbaiki kebocoran jantung, atau adanya kelainan pada katup.

Anda tentu tidak mengharapkan hal tersebut bukan?

Dikatakan dokter konsultan jantung anak ini, PJB terjadi karena ada kelainan struktur jantung yang muncul sejak bayi masih dalam kandungan. Ditandai suara bising jantung saat pemeriksaan awal oleh dokter.

Ketua SPI RSUP Prof Kandou Dr dr David Kaunang SpA(K) (kedua kiri) dan Kepala Instalasi Promkes dr Ivonne Rotty MKes (paling kiri) mengajarkan teknik mencuci tangan kepada pengunjung RS.
Ketua SPI RSUP Prof Kandou Dr dr David Kaunang SpA(K) (kedua kiri) dan Kepala Instalasi Promkes dr Ivonne Rotty MKes (paling kiri) mengajarkan teknik mencuci tangan kepada pengunjung RS.

“Di Indonesia, justru dapat terjadi setiap 1 persen dari kelahiran hidup,” ujar Ketua SPI RSUP Prof Kandou tersebut, saat penyuluhan kesehatan yang digelar Instalasi Promkes RSUP Prof Kandou, Rabu (25/7/2018), di depan Apotik Instalasi Rawat Jalan.

PJB, lanjutnya, dapat mengganggu kemampuan jantung untuk memompa darah dan penyaluran oksigen ke seluruh tubuh.

Faktor risiko terjadi PJB pada anak terbagi dua. Yaitu kondisi umum perinatal (periode jelang kelahiran) maupun faktor ibu.

Saat perinatal, ada kemungkinan terinfeksi TORCH yang berasal dari kucing atau virus rubella, kelahiran prematur yaitu kurang dari 37 minggu, serta kelainan genetik seperti bibir sumbing atau down syndrom.

Sedangkan faktor ibu, bisa dikarenakan mengalami penyakit diabetes, kegemukan, maupun hipertensi.

Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol, serta penggunaan obat-obatan. Adanya riwayat tiroid, lupus eritematosus sistemik, influenza atau gejala flu like, epilepsi, PJB pada ibu, maupun kehamilan ganda.

Diterangkan Kaunang, gejala dan tanda klinis PJB pada anak berupa kebiruan (sianosis) pada bibir, lidah, dan kuku, sering terjadinya infeksi saluran pernapasan sehingga sulit bernapas, cepat lelah, gagal tumbuh karena kurang nafsu makan. Ada juga bercak putih, jari tabuh, susah menyusui, dan saat beraktivitas tiba-tiba anak sering menjongkok.

Bila ditemukan gejala tersebut pada anak, biasanya akan dirujuk ke dokter ahli penyakit jantung anak.

Nantinya bakal dilakukan sejumlah pemeriksaan seperti ekokardiografi, dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Mencegah PJB pada anak, sebut Kaunang, kuncinya terletak pada perawatan bayi sejak masih dalam kandungan.

Untuk ibu, diperlukan vaksinasi guna mencegah terinfeksi virus. Hindari konsumsi alkohol dan obat-obatan, kendalikan gula darah dengan berkonsultasi ke dokter, termasuk mengecek rutin kondisi kehamilan.

“Jika Anda menemukan gejala PJB pada bayi Anda, segeralah mencari pertolongan medis. Rutin periksa ke dokter ahli jantung anak, bahkan setelah anak tumbuh dewasa namun masih alami gejala PJB,” tandas Kaunang, seraya menambahkan, anak yang terindikasi PJB tetap aman diimunisasi. Seperti Imunisasi MR (Campak dan Rubella) yang bakal serentak dilaksanakan pemerintah pada Agustus-September ini.

(Harry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here