Berita Terorisme Berdampak Psikologis Pada Anak

0
266
Hanna Monareh MPsi Psikolog, Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Sulut.

MANADO-Berita pemboman dan terorisme di Indonesia saat ini menjadi trending topik. Berempati dengan keluarga yang menjadi korban, menimbulkan perasaan duka kehilangan orang-orang yang dicintai.

Menurut Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Sulawesi Utara Hanna Monareh MPsi Psikolog, rentetan kejadian pemboman yang diberitakan di media cetak dan elektronik dapat menimbulkan rasa kuatir, cemas dan takut untuk masyarakat Indonesia. Termasuk juga anak-anak.

Situasi ini dapat mempengaruhi psikologis anak.

Kata ‘teroris’ belum sepenuhnya dipahami anak, lebih baik mengatakan ‘pemboman’. Setiap anak memiliki respon berbeda-beda dengan berita yang didengar.

Menyikapi situasi saat ini, peran orang tua sangat penting. Pertama, orang tua yang seharusnya memiliki kedekatan emosional mendalam dengan anak, diharapkan dapat mengelola dan mengontrol emosi diri sendiri.

Bila orang tua yang terguncang dengan kejadian ini, bagaimana dapat membantu anak? Kondisi psikologis orang tua saat ini mempengaruhi komunikasi dengan anak.

Kedua, di usia tertentu 3–6 tahun batasi anak menonton atau menyaksikan tayangan berita pemboman.

Di usia ini, anak kurang mampu menyaring informasi yang diterima. Gambar, bentuk dan simbol-simbol tertentu memudahkan anak menginterpretasikan mengenai suatu hal.

Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di usia ini. Bila anak sudah menonton berita tersebut, diharapkan orang tua bersifat netral dalam memberikan edukasi terhadap anak.

Dan hindari pernyataan SARA yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Menenangkan anak dengan meyakinkan bahwa kondisi mereka saat ini aman bersama orang tua. Polisi dan TNI sedang bertugas menangkap pelaku.

Ketiga, di usia sekolah dasar, anak bisa lebih mudah mendapatkan informasi mengenai berita pemboman. Lewat internet ataupun saat berada di sekolah mendengar cerita dari teman-temannya.

Membangun komunikasi yang hangat untuk menciptakan rasa percaya saat anak ingin bertanya dan bercerita dengan orang tua, mengenai sesuatu yang dilihat atau didengarnya.

Berikan anak kesempatan mengekspresikan perasaannya.

Kemampuan berpikir anak lebih kritis, mengajukan pertanyaan pada orang tua. Para orang tua sebaiknya menjelaskan bahwa yang melakukan pemboman bukan berasal dari satu agama tertentu. Semua agama mengajarkan kebaikan.

Di sekolah, anak-anak belajar bahwa negara Indonesia memiliki hukum dan aturan yang berlaku. Jadi apabila ada yang melanggar aturan akan mendapatkan hukuman.

Penyampaian orang tua harus jelas. Bahwa Indonesia Cinta Damai, Berbhineka Tungga Ika. Berbeda agama, suka, bahasa tetapi saling menyayangi dan menghormati orang lain.

Mengajarkan anak berempati, berdoa bersama mendoakan para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Sambil memohon kedamaian dan perlindungan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Ditambahkan Monareh, berita pemboman yang didengar ataupun disaksikan anak secara terus menerus lewat media, secara tidak langsung dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri anak.

Perkembangan anak bakal mengalami pengunduran. Seperti mimpi buruk, menangis, takut keluar rumah, dan lain-lain. “Adanya hal demikian, orang tua dapat mengajak anak berkonsultasi dengan Psikolog Klinis dan Psikiater,” pungkasnya.

(Harry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here