Kemendagri Mantapkan Pemahaman Ideologi Pancasila di Sulut

0
103
Direktorat Jenderal (Dirjen) Politik dan Pemerintahan menggelar Forum dialog Pemantapan Pemahaman Ideologi Pancasila di Provinsi Sulut dengan tema "Ideologi Pancasila sebagai Pondasi Ketahanan Nasional dalam rangka Ketutuhan NKRI".

SULUT – Pancasila yang merupakan Dasar negara, saat ini menjadi perhatian pemerintah. Disinyalir di era sekarang ini sudah banyak hal hal negatif yang menggerus Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa.

Untuk itu Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI dalam hal ini Direktorat Jenderal (Dirjen) Politik dan Pemerintahan menggelar Forum dialog Pemantapan Pemahaman Ideologi Pancasila di Provinsi Sulut dengan tema “Ideologi Pancasila sebagai Pondasi Ketahanan Nasional dalam rangka Ketutuhan NKRI”.

Dalam Dialog tersebut mengahadirkan beberapa narasumber diantaranya DR A Rasyid dari Universitas Negeri Malang, DR Dadang R Hidayat dari Universitas Padjajadan, Dr Ferry Daud Liando dari Unsrat dan Kaban Kesbangpol Sulut, Evan Steven Liow.

Ratusan peserta yang hadir pun dari berbagai latar belakang berbeda, mulai dari mahasiswa, Tim Penggerak PKK Sulut, Akademisi, tokoh masyarakat, Ormas, LSM dan Forum Bela Negara. Para peserta terlihat antusias dengan menyampaikan berbagai saran, tanggapan dan pertanyaan terkait Pancasila dalam dialog yang berlangsung selama 2 hari mulai Senin (27/11/2017) s.d Selasa (28/11/2017) siang.

Berbagai Materi dipaparkan para narasumber, seperti sejarah perumusan Pancasila dalam BPUPKI, Kedaulatan dalam Komunikasi, 4 Konsensus bangsa serta Politik dan tantangan Kebhinekaan.

Dialog yang disambut dengan antusias ini ditutup Selasa (28/11/2017) siang oleh Kaban Kesbangpol Sulut, Steven Liow mewakili Gubernur Sulut.

“Hari ini kita bersyukur telah menyelesaikan kegiatan diskusi ini, apa yang dilakukan Dirjen Politik dan pemerintahan ini menjadi masukan bagi kita semua. Apalagi bila dilihat tadi antusias sekali para peserta saat sesi diskusi. Yang kami undang ini juga merupakan orang orang terhormat dari tokoh masyarakat maupun pimpinan Ormas di Sulut,” pungkas Liow.

Diakhir sambutannya, Liow berjanji kedepan bila ada diskusi seperti ini akan mengundang tidak hanya ormas adat tetapi juga ormas nasional maupun agama, mahasiswa Papua, sehingga tidak ada dikotomi terhadap golongan tertentu, sesuai Sulut sebagai Laboratorium kerukunan di Indonesia.

(Ferdian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here