Korban Tindak Kekerasan Seksual Paman Minta Pendampingan Dinas P3A Manado

0
555

MANADO- Terjadinya tindak kekerasan terhadap anak dibawah umur saat ini marak terjadi. Dan parahnya banyak kejadian yang terjadi justeru pelakunya adalah orang terdekat atau bahkan keluarganya sendiri.

Salah satu korban kekerasan anak di Manado sebut saja Mawar yang sudah 2 kali dicabuli oleh pamannya sendiri AW, hingga melahirkan 2 orang anak. Peristiwa pertama ini terjadi beberapa tahun yang lalu saat korban masih berusia 14 tahun dan terulang lagi saat korban berusia 17 tahun.

Korban yang didampingi keluarga dan Satgas PPA Wilayah Sulut Kementerian PPPA RI Adv. E.K. Tindangen, SH, MH, pada Selasa (12/9/2017) pagi mendatangi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) kota Manado.

Hal ini dilakukan untuk mendapatkan perlindungan maupun pendampingan terhadap masalah yang dihadapi. Karena Mawar yang dalam keadaan trauma sudah tidak sanggup lagi menanggung beban yang dipikulnya ini.

Kepala Dinas P3A Kota Manado, Hetty Tetty Tamaren, SE, MA menerima korban dan selanjutnya memberikan pendampingan dengan pendekatan secara kekeluargaan.

“Kami akan memberikan perlindungan dan pendampingan secara terus menerus terhadap korban yang saat ini mengalami trauma, selain itu kami akan berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Manado dalam membantu penerbitan Akte Kelahiran anak yang memiliki hak dalam kehidupan selanjutnya baik pendidikan maupun hak hak lainya,” ungkap Tetty kepada sulutaktual.com

P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) kota Manado yang menerima laporan tindakan tersebut akan menindaklanjuti permasalahan ini. Bahkan setelah laporan ini Kadis PPPA kota Manado dan staf bersama korban juga turut serta Adv. EK Tindangen selaku satgas PPA wilayah Manado langsung menuju Polda Sulut guna mengetahui lebih lanjut sejauh mana kasus ini didalami.

“Dengan adanya hal ini kami ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa pemerintah hadir dalam mendampingi permasalahan ini, selain itu juga ini pengaruh dari kejadian ditempat lain yang diikuti, ditambah dengan pengaruh media sosial yang semakin tak terbendung,” tandas Tindangen advokat P2TP2A yang juga ketua Ikadin Sulut.

Korban yang saat ini mengalami trauma setelah kejadian saat ini ditempatkan sementara di kediaman keluarganya di Taman Sari yang jauh dari TKP, Ranotana Karombasan.

Dengan terjadinya kasus ini diharapkan masyarakat dapat membuka mata dan hati untuk tidak berbuat kekerasan terhadap anak karena berdampak sosial yang sangat negatif bagi perkembangan anak. Selain itu juga diketahui adanya P2TP2A yang siap membantu bila ada masyarakat yang menjadi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

(Ferdian)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here